Sex Untuk Remaja Onani Dan Masturbasi

Diposkan oleh Cerita Dewasa on Jumat, 25 Mei 2012

- Apa sih untungnya sex untuk remaja?
- Gimana pendapat anda dengan onani dipandang dari segi kedokteran dan kesehatan?


JAWABAN :
SEKS? Satu kata yang masih membutuhkan waktu untuk kita berani berbicara dan membuka tabirnya sesuai dengan tingkat kepentingan dan pendidikan ilmu pengetahuan terutama ditengah lingkungan budaya kita yang masih kental dengan norma moral dan aturan ketimuran yang harus tetap dijaga dan dijunjung tinggi. Karena hidup adalah suatu pilihan, akhirnya kita mesti memilih, Ilmu atau Tabu? 

Informasi mengenai pendidikan “SEKS” akhir-akhir ini sudah mulai masuk dalam kehidupan remaja, tidak terlepas dari pengamatan di lapangan bahwa remaja masih banyak yang tidak mengetahui tentang makna Pendidikan Seks secara medis sehingga terjebak ke dalam mitos-mitos seks yang secara medis tidak terbukti kebenarannya dan cenderung merugikan. Tanpa disadari usia remaja merupakan usia dimana dimulainya suatu fase yang sangat rentan untuk mengenal dan memulai perilaku seks dini dan seks bebas dikarenakan telah aktifnya hormon seksual (estrogen dan progesterone) didalam tubuh yang ditandai dengan siklus menstruasi (perempuan) dan mimpi basah (laki-laki) untuk yang pertama kalinya. Jika tidak terkontrol dan tidak dibekali ilmu secara medis dan mendapat dukungan serta perhatian dari keluarga dan pendidikan formal, tanpa pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya, ada suatu dampak yang sangat mengancam kelangsungan kesehatannya di masa mendatang akibat perilaku seks dini dan seks bebas tersebut. 

Apa sebenarnya SEKS itu? Seks memiliki arti yang sangat sederhana yakni berarti jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan. Seks berkembang menjadi berbagai pengertian apabila disertai dengan penambahan “kata” seperti Perilaku seksual yakni segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan seksual, dan Hubungan seks yang mempunyai arti hubungan dua jenis kelamin sebagai salah satu bentuk kegiatan penyaluran dorongan seksual tersebut. 

Secara singkat muncul pertanyaan, apa sih untungnya seks untuk remaja? Jika hanya sebatas perkataan “seks” tentunya bisa kita lihat dari arti medis “seks” itu sendiri bahwa remaja harus tahu apa saja yang dia miliki yang berkaitan dengan organ reproduksinya. Kesehatan organ reproduksi sebaiknya harus diperhatikan sejak mereka memulai fase pubertas karena penyakit atau keluhan yang muncul nantinya disaat mereka beranjak dewasa terutama mulai masuk fase pernikahan bukanlah penyakit atau keluhan yang datang secara instan akan tetapi merupakan akumulasi atau perilaku tidak sehat sejak remaja baik itu dalam perilaku sehari-hari secara umum terlebih perilaku seksnya dimasa lalu. 

Perilaku seks dini dan seks bebas pada usia remaja mempunyai resiko medis sesuai dengan jenis kelaminnya. Meskipun banyak resikonya, yang menjadi perhatian khusus untuk Resiko Perilaku Seks Bebas pada Laki-laki : penularan penyakit kelamin (kencing nanah, sphylis, herpes kelamin, HIV – AIDS, dan masih banyak lagi) yang mana penyakit kelamin ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan organ reproduksi (kanker testis,kanker prostat, sperma tidak subur) – kelumpuhan - kemandulan bahkan kematian jika tidak diterapi dengan cepat dan tepat. 

Resiko Perilaku Seks Bebas pada Perempuan berupa : penularan penyakit kelamin (kencing nanah, sphylis, herpes kelamin, HIV – AIDS, dan masih banyak lagi) yang mana penyakit kelamin ini bisa menyebabkan terganggunya kesehatan organ reproduksi terlebih organ reproduksi perempuan yang belum terbentuk sempurna apabila masih dibawah usia 20 tahun sehingga sangat mudah mengalami perlukaan pada otot-otot dinding vagina dan mulut rahim – lebih sensitive terhadap kontak kuman terutama kuman akibat kontak seksual, hal inilah yang menguatkan akan semakin bertambahnya resiko perilaku seks bebas lainnya terutama resiko terjadinya Kanker Serviks (penyebab kematian nomor satu di Indonesia) menjadi 2-3 lipat jika seorang perempuan dibawah usia 17 tahun pernah melakukan hubungan seks bebas terlebih lagi berganti-ganti pasangan. Selain itu kehamilan dini dibawah usia 20 tahun meningkatkan resiko keguguran saat kehamilan dan perdarahan hebat saat persalinan bahkan kematian. Terjadi kenaikan angka perilaku aborsi juga tak terhindari dikarenakan Kehamilan Yang Tidak Diiinginkan (KTD) dimana dampak aborsi dapat meningkatkan angka kejadian kanker di organ reproduksi, kemandulan dan kematian. 

Perilaku seksual yang belakangan ini cenderung akrab dilakukan remaja dan kerap ditanyakan apakah ada manfaat atau keburukan dibalik perilaku tersebut yakni Perilaku Onani dan Masturbasi. Secara medis, Onani merupakan istilah yang digunakan untuk pelaku laki-laki, sebaliknya Masturbasi untuk pelaku perempuan. Onani dan masturbasi merupakan perilaku seksual dengan cara merangsang sendiri daerah intim dan daerah sensitive pribadi tanpa disertai dengan hubungan intim atau senggama dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan seksual bahkan orgasme (puncak kenikmatan seksual) sesuai fungsi seksual jenis kelaminnya. Sejauh ini onani dan masturbasi memang erat dengan perilaku remaja atau seseorang yang notabene belum menikah meski tidak terlepas kemungkinan orang dewasa yang sudah menikah ada yang melakukannya. Munculnya rangsangan yang berbau seksual dari segala arah (visual dan audio yang terbanyak) ditambah tidak bisa mengkontrol diri terhadap rangsangan yang datang baik secara tidak sengaja apalagi yang sengaja dicari, membuat remaja melakukan hal untuk melepaskan ketegangan seksualnya melalui cara onani dan masturbasi tersebut. 

Penilaian dari sisi kesehatan secara umum akan dampak perilaku onani tentunya berbeda dengan masturbasi karena dilatarbelakangi fungsi seksual dan organ reproduksinya berbeda. Meski sebagian besar medis berpendapat bahwa onani dan masturbasi merupakan perilaku yang wajar, namun batasannya adalah apabila perilaku ini tidak terjebak kedalam situasi “ketergantungan” sehingga dikhawatirkan seseorang akan lebih menyukai aktivitas seks sendiri dibandingkan dengan pasangannya dikemudian hari saat telah menikah. 

Dampak onani (pada laki-laki) secara langsung apalagi yang ketergantungan biasanya menimbulkan rasa lelah, mengantuk, badan terasa pegal yang berlebihan bahkan bisa menimbulkan iritasi pada daerah intim yang dirangsang dan tergantung dari “alat” yang digunakan saat melakukan onani, namun yang menjadi perhatian besar saat ini adalah dampak jangka panjangnya disaat seorang laki-laki sudah berumahtangga akan mengalami gangguan fungsi seksual berupa sulit mencapai klimaks saat berhubungan seks atau justru mempercepat ejakulasi atau ejakulasi dini karena sudah terbiasa mendapatkan kepuasan seksual dengan aktifitas sendiri saja. 

Dampak masturbasi (pada perempuan) secara langsung bisa mengakibatkan munculnya infeksi di vagina karena pada dasarnya vagina sangat sensitive sehingga perlakuan seperti memasukkan sesuatu yang tidak diperhatikan kebersihannya (baik itu jari terlebih alat bantu yang ekstrim) akan memudahkan vagina mengalami iritasi, gatal-gatal, kemerahan pada bibir vagina, keputihan tidak normal, robeknya selaput dara, perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah karena pergesekan yang terjadi didalam lubang vagina oleh “alat bantu” saat melakukan masturbasi. Dampak ini jika tidak segera diatasi atau diobati secara medis, kemungkinan besar infeksi akan bertambah berat sehingga tidak menutup kemungkinan akan muncul keluhan penyakit yang lebih berbahaya bagi organ reproduksi perempuan yakni kanker bahkan kemandulan. 

Untuk remaja atau seseorang yang belum menikah, meski dari sudut pandang medis masih ada yang mengatakan wajar perilaku onani dan masturbasi secara umum, namun jangan sampai terjebak ke dalam sugesti ketergantungan sehingga Anda sulit melepas perilaku ini, maka dimulailah untuk mengurangi perilaku onani-masturbasi dan kontrol kebiasaan ini jangan sampai merugikan Anda saat ini terlebih dikemudian hari setelah Anda berpasangan. 

Adapun usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mengkontrol dorongan seksual seseorang untuk melakukan onani-masturbasi adalah dengan memperbanyak aktifitas positif, ibadah, sosialisasi dengan lingkungan yang sehat dan sebisa mungkin hindari waktu kosong yang bukan merupakan waktu Anda untuk benar-benar istirahat atau tidur dan kunci kata adalah kontrol diri dan perbanyak ilmu pengetahuan akan tubuh Anda sehingga Anda bisa lebih bijaksana dalam mengambil sikap jika sewaktu-waktu terjebak didalam pilihan ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk onani-masturbasi ini.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar