Misteri Hidup Dan Rizki

Diposkan oleh Cerita Dewasa on Senin, 07 Mei 2012

Tulisan ini disarikan dari kitab Jami’us Sa’adat, penghimpun kebahagiaan, karya seorang ulama besar, seorang mujtahid, filosuf dan sufi besar di zamannya.

Dunia memiliki dua esensi: esensi dirinya dan esensi hak hamba Allah swt. Esensi dunia adalah suatu konsep tentang realitas-realitas makhluk termasuk bumi dan isinya. Dunia Kadang-kadang menyebabkan manusia menderita dan sengsara yang berkepanjangan, permusuhan dan pertumpahan darah, menjatuhkan ke lembah kehinaan dan kemaksiatan, dan lainnya. Dan kadangkala, walaupun jumlahnya lebih sedikit, juga mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan kedamaian, persaudaraan dan kasih sayang, kemuliaan dan ridha Allah swt, dan lainya.

Allah swt menghimpun tentang dunia dalam firman-Nya:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُب الشهَوَتِ مِنَ النِّساءِ وَ الْبَنِينَ وَ الْقَنَطِيرِ الْمُقَنطرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَ الْفِضةِ وَ الْخَيْلِ الْمُسوَّمَةِ وَ الأَنْعَمِ وَ الْحَرْثِ ذَلِك مَتَعُ الْحَيَوةِ الدُّنْيَا وَ اللَّهُ عِندَهُ حُسنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran: 14)

Mencintai semua itu bagian dari dorongan syahwati yang tercela dan terhina. Mencintai dunia dapat memancing dan mendorong potensi marah dan pasukannya untuk menguasai hak orang lain, menjajah dan menzalimi hak hamba-hamba Allah swt.

Di sinilah sering terjadinya kerjasama antara potensi syahwati dan potesi amarah berikut pasukannya untuk meraih dunia dan keindahannya. Lebih fatal lagi jika melibatkan potensi pikir ke dalamnya. Pada awalnya keinginan memperoleh dunia dan keindahannya merupakan kerjaan potensi syahwat, kemudian ikut nimbrung ke dalamnya potensi marah, potensi binatang buas. Kemudian disusul oleh potensi pikir, sebagian ulama menamakannya potensi khayali, dan Imam Ali bin Abi Thalib (as) menyatakan sebagai potensi iblis. Jika potensi ini bergabung ke dalamnya, maka sempurnalah kezaliman dan penzaliman terhadap orang lain, rakyat kecil, dan hamba-hamba Allah swt.

Di era informasi dan global ini manusia tidak perlu mengucurkan keringat untuk mendapatkan dunia sebanyak-banyaknya. Mereka dapat menggunakan sains dan tehnologi, merekayasa dengan pikiran untuk mencuri dan merampas hak orang lain. Perlu dibedakan, pikiran disini bukan kerja akal yang mulia, tetapi kerja potensi khayali dan iblis sebagai panglimanya.

Adapun esensi dunia dalam hak hamba Allah swt adalah konsep tentang semua hartanya selama hidupnya sebelum kematian tiba. Karena setelah kematiannya harta bukanlah duniawi lagi tetapi menjadi ukhrawi. Setiap apa yang dimiliki oleh seorang hamba mengandung bagian dari potensi syahwati, tujuan dan kenikmatan dalam hidupnya sebelum kematian menjemputnya. Inilah dunia dalam hak seorang hamba.

Hak seorang hamba ini memiliki dua ikatan: ikatan dengan hati yaitu mencintainya; dan ikatan dengan fisiknya yaitu yang digunakan untuk kemaslahatan fisiknya, mengambil darinya sesuai dengan kadar yang dibutuhkan fisiknya. Keinginan dan kecintaan pada haknya yang semestinya bukanlah hal yang tercela dan terhina. Karena hal ini sebagai pendamping di dunia yang buahnya akan menjadi pendampinya di alam kubur dan alam akhirat.

Mengapa dunia ini dinamakan dunia? Karena dunia berasal kata “dana” artinya rendah dan hina, dari satu sisi. Dari sisi yang lain berarti dekat, karena itulah seorang ulama atau hamba Allah swt yang merasakan kelezatan ilmu dan ibadahnya, atau merasakan kenikmatan apa yang dimilikinya di dunia bukan suatu yang tercela dan terhina. Karena apa yang dimilikinya itu adalah dunia yang dibungkus dengan akhirat. Karena itulah dalam sabdanya Rasulullah saw menjadikan shalat sebagai bagian dari dunia:
حبب إلي من دنياكم ثلاث: الطيب والنساء، وقرة عيني في الصلاة

“Yang kucintai dari duniamu ada tiga: kebajikan, perempuan, dan kesejukan hatiku dalam shalat.”

Semua ini dunia yang dibungkus dengan akhirat, sehingga menjadi bagian dari amal-amal ukhawi.

Dunia yang Terpuji
Dunia yang terpuji adalah dunia yang dibungkus dengan akhirat. Menggunakan sesuai kadar yang dibutuhkan. Rizki yang dibutuhkan sesuai kadanya maka mencarinya adalah termasuk amal kebajikan.

Rasulullah saw bersabda:
العبادة سبعون جزءاً، أفضلها طلب الحلال

“Ibadah ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari rizki yang halal.”
ملعون من ألقى كله على الناس

“Terlaknatlah orang yang menggantungkan semua kebutuhannya kepada manusia.”

Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:
“Dunia ada dua macam: dunia yang baik dan dunia yang terlaknat.”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Barangsiapa yang mencari dunia untuk menjaga kesucian diri dari manusia, mencari nafkah untuk keluarganya, dan membagi kasih sayang pada tetangganya, maka ia akan menjumpai Allah azza a jalla pada hari kiamat, dan wajahnya seperti bulan di malam purnama.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Orang yang bersungguh-sungguh mencari nafkah untuk keluarganya seperti seorang pejuang di jalan Allah.”

“Bukanlah golongan kami orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya, dan meninggalkan akhiratnya untuk dunianya.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Janganlah kalian malas untuk mencari penghidupan kalian, karena sesungguhnya bapak-bapak kami mempercepat lari kudanya di dalamnya dan mencarinya.” Kemudian seseorang berkata kepadanya: kami mencari dunia dan senang mendapatkannya. Kemudian beliau bertanya: “Untuk apa kamu mencari dunia? Ia menjawab: aku mencarinya untuk diriku dan keluargaku, sebagian aku sedekahkan, dan sebagian lagi untuk melakukan haji dan umrah. Imam Ja’far (sa) berkata: “Ini bukan mencari dunia, ini mencari akhrat.” Selanjutnya beliau berkata: Abul Hasan (sa) bekerja di Irak sampai melepuh kedua kakinya. Ia bertanya: Dimana laki-laki itu? Beliau berkata: “Telah bekerja dengan tangannya sendiri di buminya orang yang lebih baik dariku, dan ia tidak enggan. Ia bertanya: Siapa dia? Beliau menjawab: Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib (sa) dan bapak-bapakku, mereka bekerja dengan tangan mereka sendiri; mencari rizki adalah bagian dari perbuatan para nabi, para rasul, para washi dan orang-orang yang shaleh.”

Orang Mukmin harus Bekerja
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Allah swt menurunkan wahyu kepada nabi Daud (as): “Sesungguhnya kamu akan menjadi sebaik-baiknya hamba sekiranya kamu tidak makan dari baitul mal, dan mencari rizki dengan tanganmu sendiri.” Selanjutnya beliau berkata: “kemudian nabi Daud (as) menangis selama empat puluh hari setiap pagi hari. Lalu Allah mewahyukan pada besi agar melunak bagi hamba-Nya, Daud. Kemudian Allah melunakkan besi untuk nabi Daud (as), setiap hari ia mengerjakan satu baju besi lalu dijualnya dengan harga seribu dirham. Kemudian ia mengerjakan tiga ratus enam puluh baju besi dan menjualnya dengan harga tiga ratus enam puluh ribu dirham, sehingga ia tidak butuh lagi mengambil dari baitul mal.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
“Barangsiapa yang mencintai kami Ahlul bait, maka hendaknya menjadikan kefakiran sebagai jilbab atau tijfaf (sejenis baju besi).” Jilbab maksudnya penutup kefakiran dan tijfaf adalah pekerjaan yang baik untuk menjauhkan kefakiran.

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) pernah ditanyai tentang orang yang mengatakan: “kerjaanku duduk-duduk di rumah, melakukan shalat, puasa, dan beribadah kepada Tuhanku, sementara urusan rizkiku akan datang padaku.” Beliau berkata: “Inilah salah satu dari tiga hal yang menyebabkan doanya tidak diijabah.”

Mencari rizki yang halal dengan cara yang halal merupakan bagian dari makna kemerdekaan. Kemerdekaan memiliki dua makna:
Pertama: Kemerdekaan dari penjajahan hawa nafsu, kemerdekaan lebih umum.
Kedua: Kemerdekaan dari kepatuhan terhadap hawa nafsu, kemerdekaan lebih khusus. Yakni menunjukkan kebutuhan kepada manusia, berharap rizki yang ada di tangan lain, menggantungkan rizkinya pada harta mereka. Dalam hal ini ada dua kemungkinan: dengan cara haram atau mubah (yang dibolehkan). Yang haram misalnya, mencuri, merampas, menipu, berkhianat, dan lainnya. Yang mubah, misalnya dari infak dan sedekah, kotoran harta manusia. Walaupun cara yang kedua ini mubah, tapi dapat membentuk sifat ketergantungan pada manusia, berharap pada harta orang lain. Yang akhirnya dapat menjatuhkan kesucian diri pada kehinaan, kerendahan martabat, menodai izzatun nafs, dan lainnya.

Disarikan dari kitab Jami’us Sa’adat (penghimpun kebahagiaan), Syeikh Muhammad Mahdi An-Naraqi seorang mujtahid, filosuf dan ulama sufi besar di zamannya; jilid 2, hlm 17-21.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar