Cerita Seks birahi - Kisah ML dengan Ira ibu muda

Diposkan oleh Cerita Dewasa on Selasa, 01 Mei 2012



Ceritanya dimulai ketika empat bulan yang lalu aku berkenalan dengan seorang ibu rumah tangga muda berumur sekitar 28 tahun dan usia perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikarunia anak. Namanya adalah Ira (nama samaran), cantik, berkulit putih dengan ukuran badan yang ideal sesuai dengan tingginya.
Dari pertemuan pertama sampai pertemuan yang keempat kalinya, semuanya masih berjalan dalam batas-batas yang wajar, hanya sekali-kali aku memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal yang berbau seks. Pada pertemuan yang keenam, aku mengundang Ira apakah Ira bersedia untuk makan siang di tempat yang santai dan hanya kita berdua saja. “Kenapa harus di tempat khusus?” tanya Ira. “Hanya untuk keamanan masing-masing pihak mengingat status diri masing-masing agar tidak membawa masalah pada urusan rumah-tangga masing-masing”, jawabku. Ira mengerti dan mengatkan oke. Pendek cerita akhirnya kita berdua check-in di motel “HS” di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah motel yang lux dengan fasilitas “whirpool” di dalam kamar.
Habis menyantap makan siang, kita berdua bercerita kesana-kemari dengan iringan sentuhan-sentuhan kecil yang sengaja kulakukan dimana ternyata Ira kelihatan merasa tidak keberatan dengan apa yang kulakukan. Kemudian kumulai membelai tengkuknya dan menyentuh bagian belakang daun kupingnya dengan sentuhan-sentuhan yang lembut. Ternyata Ira menikmatinya dengan memejamkan mata dan terdengar lirihan kecil dari bibirnya. Kupalingkan wajah Ira menghadap mukaku, dagunya kuangkat sedikit sehingga bibirnya tepat berhadapan dengan bibirku, dengan lembut kukecup bibirnya, sekejap Ira tersentak kaget, tapi aku terus mengulum bibirnya dan mulai memainkan lidahku. Desah nafas Ira mulai meninggi, dan dia mulai membalas ciumanku. Cukup lama kami menikmati adegan ciuman ini, desah nafas Ira semakin tidak teratur ketika tanganku mulai membuka kancing bajunya atu-persatu dan meraba buah dadanya dengan sentuhan halus pada pangkal bukit buah dadanya. Ira mulai menggelinjang, nafasnya berat tak beraturan, tanganku semakin menggila meremas dan memilin puting buah dadanya.
Terlepas sudah baju atas Ira, dan dengan mudah kutanggalkan BH-nya. Sepasang bukit indah dengan puting yang berdiri tegak tampak di hadapanku, tak kuasa aku untuk tidak menjilat dan mengisapnya. Oh, ternyata buah dada Ira adalah salah satu bagian daerah sensitifnya. Penisku tegang sekali, tetapi aku berusaha untuk tetap memegang kendali “permainan” ini. Rok mini Ira telah kutanggalkan, hanya tinggal CD warna pink yang tersisa di tubuhnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik CD Ira, dan ternyata vaginanya telah membasah, dengan pasti tanganku yang sudah terlatih memainkan clit Ira, kupilin-pilin dan kugosok-gosok dengan ujung jariku. Ira meronta liar, dan erangan luapan rasa nikmatnya keluar tanpa sadarnya dengan keras sekali, namun seketika itu juga Ira mencoba menahannya dengan menutupkan bantal di mukanya.
Dari pengalamanku bercinta dengan wanita aku mengetahui bahwa Ira adalah jenis wanita yang suka dengan lepas bebas mengeluarkan rasa nikmatnya sewaktu melakukan hubungan seks.
“Ira, jangan kamu tutupi mukamu dengan bantal, Mas Herman tahu bahwa kamu menyukai hal ini, keluarkan rasa nikmatmu dengan bebas dan lepas”, kataku.”Ira malu, malu sekali”, jawabnya.Aku tidak memberikan komentar, malah dengan agresifnya kujilat puting buah dadanya dan aku melihat Ira menahan rasa gairahnya dengan mencengkram keras alas tempat tidur. Kutelusuri ketelanjangannya dengan lidahku, mulai dari bagian buah dada dan berhenti pada pangkal vaginanya. Ira meronta dan berusaha untuk tidak mengeluarkan erangan kenikmatannya dengan cara mengelinjang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tapi meskipun tidak sekeras yang pertama, pada akhirnya Ira mengerang juga sambil berkata, “Oooooh its so nice, Mas Herman.”
Posisi bibirku masih berada di sekitar pangkal vaginanya, kumainkan lidahku menjilati pangkal vagina Ira, menurun mendekati clit, dan akhirnya kujilat dan kuhisap dengan buasnya clit Ira tanpa henti. “Oh Mas Herman, please fuck me”, Ira memohon, tetapi aku tetap saja melanjutkan mempermainkan clit Ira dengan ujung lidahku. Dengan kematanganku mencumbu wanita, meskipun penisku sudah begitu tegang, aku masih tetap berusaha untuk menguasai diriku agar tidak cepat-cepat terangsang untuk dengan segera menyetubuhi Ira. Aku ingin agar Ira benar-benar merasakan bahwa bermain cinta dengan lelaki yang jauh lebih tua dari dirinya ternyata memberikan kenikmatan yang lebih, khususnya kalau dia membandingkan kemahiranku di dalam soal seks dengan suaminya yang umurnya hanya selisih dua tahun saja dengan dirinya.
“Mas Hermannnnn…, cepat masuki saya, saya sudah tidak kuat lagi”, Ira merintih lagi. Pada kali ini aku dengan sigap memasukkan penisku kedalam vaginanya.”Ohh…”, Ira melepaskan rintihan rasa nikmatnya ketika penisku mulai memasuki vaginanya. Aku mulai menggoyangnya, dan kulihat Ira terus merintih kecil sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang kuberikan. Berbagai macam gaya telah kuberikan untuk memuaskan Ira, tetapi Ira belum juga mencapai orgasme, sehingga aku merasakan bahwa Ira mulai merasa keletihan demikian pula diriku, sehingga aku mengajaknya untuk beristirahat sebentar. Pada kesempatan istirahat tersebut aku bertanya,”Ir, kamu kok sedemikian lama masih juga belum orgasme, apakah Mas Herman tidak memuaskan kamu?” Ira hanya menjawab,”Mas Her, kamu hebat sekali.”"Tetapi, pada kenyataannya kamu belum orgasme, please jangan basa-basi Ir… what’s wrong?” kataku. Sejenak Ira diam saja,”What’s wrong Ira, please tell me!” pintaku.
Akhirnya Ira bercerita padaku,”Mas Her, Ira juga tidak tahu mengapa bahwa setiap kali Ira making love dengan suamiku, Ira belum pernah sekalipun mencapai orgasme, padahal dia cukup telaten merangsang Ira. Yang Ira sering lakukan hanyalah melakukan pura-pura orgasme untuk memuaskan suami Ira”, tuturnya.”Apakah suami kamu termasuk laki yang cepat ‘keluar’”, tanyaku.”Kalau dibandingkan Mas Herman, dia kalah lama, tapi 10-15 menit dia bisa bertahan”, katanya. Kalau melihat begitu “liar”-nya Ira di tempat tidur kurasa waktu fucking 10-15 menit akan cukup membuat Ira orgasme beberapa kali, tapi pada kenyataannya Ira malah belum pernah orgasme sekalipun selama dia making love sama suaminya. Kupikir musti ada yang salah pada dirinya atau dia menyembunyikan sesuatu yang sangat mempengaruhi pikirannya sehingga setiap kali dia making love pikiran itu mengganggunya.”Ir, don’t be upset ya, Mas Herman mau Ira menjawab dengan jujur pertanyaan Mas ini. Apakah Ira sewaktu married masih dalam keadaan virgin atau tidak?” tanyaku. Sejenak dia hanya terdiam.
“Oke Mas, I will tell you the whole story of mine… but please keep it for Mas Herman only”, katanya.”You can trust me Ira, carry on… I’m listening”, kataku.”Mas Herman, Ira sewaktu married memang sudah tidak virgin lagi, dan Ira cerita sama calon suami Ira sekitar 3 bulan sebelum married. Dia tetap mau menikahi Ira, karena dia mengatakan bahwa dia mencintai diri Ira secara keseluruhan, bukan hanya virginitas Ira saja. At that time I was so happy… even dia sudah tahu bahwa Ira bukan virgin lagi tetap selama pacaran dia hanya melakukan seks sebatas peting and necking saja sama Ira, no more than that. Dia berkata bahwa dia belum pernah sekalipun making love dan hanya mau melakukannya dengan Ira kalau kita berdua sudah married. Ira benar-benar merasa tersanjung dan makin mencintai dia. Tapi setelah kita married, seperti yang pernah Ira katakan, setiap kali making love Ira tidak pernah bisa orgasme. Hanya sampai pada tingkat gairah dan rangsangan yang luar biasa saja, setiap kali rasanya mau orgasme ada sesuatu yang menekan dan menggangu pikiran Ira”, tuturnya.
“Ir, Mas Herman sekarang ingin dengar cerita Ira sewaktu kamu kehilangan keperawananmu”, kataku.”Mas, Ira diperawanin pada waktu Ira berumur 17 tahun kelas 2 SMU, pada waktu itu Ira punya pacar berumur 22 tahun, anak ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta. Kejadiannya sewaktu Ira telah selesai berenang di rumahnya, Ira berganti pakaian di kamarnya dan setelah itu Ira diajak nonton LD cerita porno. Ira suka filmnya dan tanpa terasa Ira sangat terangsang dengan setiap adegan yang Ira lihat di film tersebut. Mas Dodi (nama samaran) my boy friend, kelihatannya sudah agak biasa dengan film-film seperti itu, sehingga dia kerjanya hanya godain Ira sambil ketawa-ketawa.”Ir, kamu suka ya adegan film itu?”, katanya. Dan Ira hanya senyum saja karena asyik nonton adegan-adegan yang belum pernah sebelumnya Ira lihat. Tiba-tiba dari belakang Mas Dodi memeluk Ira dan langsung mencium Ira, ganas sekali, tetapi Ira tidak menolaknya. Ciuman Mas Dodi luar biasa sekali, lama dia menciumi Ira dan Ira pun membalas ciumannya dengan tidak kalah ganasnya.
Mungkin akibat dari adegan film yang Ira lihat sebelumnya. Tangan Mas Dodi mulai melepaskan kancing atas baju Ira dan dengan sedikit kasar dia melepaskan pula BH Ira.
Kali itulah pertama kali Ira telanjang dada di depan Mas Dodi, tapi rasa malu sudah kalah dengan kenikmatan ciuman Mas Dodi di sekitar buah dada Ira, Mas Dodi memilin dan menjilati puting buah dada Ira, lama sekali, dan Ira berteriak tanpa sadar karena merasa nikmat sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mas Dodi tersebut. “Ir, kamu boleh teriak sekuat mungkin kalau kamu merasa nikmat, Mas Dodi sangat terangsang dengan erangan dan jeritan kamu”, katanya. Celana jeans Ira, sudah Mas Dodi lepaskan, dan dengan kasar dia lepaskan CD Ira, dan paha Ira dilebarkannya. Makin keras teriakan Ira, Mas Dodi semakin ganas melalap clit Ira. Ira tidak tahan lagi dan Ira berteriak keras ketika mencapai orgasme yang pertama. “Ir…. lihat ini”, ternyata Dodi memperlihatkan penisnya yang sudah begitu tegang, dan Ira disuruh untuk menyentuhnya. Selama pacaran terus terang Ira baru kali itu memegang langsung penis Mas Dodi, biasanya hanya sebatas dari luar celananya saja. “Sekarang kamu jilat seperti di film yang kamu lihat tadi”, pintanya.
Ira sempat tertegun, tapi penis Mas Dodi sudah begitu dekat dengan mulut Ira. Hari itu Ira mulai belajar menghisap penis yang ternyata nikmat dan sangat merangsang sekali buat Ira. Pada posisi 69, Ira benar-benar sudah merasa “terbang” begitu nikmat dan nikmat sekali rasanya vagina kalau dijilati. Ira sampai nggak sadar teriak “Oooh Mas Dodi…. jilatan kamu nikmat sekali.” Mas Dodi mengubah posisi 69-nya, penisnya berada di atas vagina Ira. Ira takut, takut disetubuhi dan takut kehilangan perawan Ira. “Mas Dod, jangan dimasukin ya, ingat Ira masih perawan”, pinta Ira. Mas Dodi menurunkan penisnya dan ujungnya digesek-gesekan ke clit Ira. Ira mengerang keras sekali akibat sentuhan penis Dodi pada clit Ira. “Ternyata kamu suka Ir, jawab dong kamu suka atau tidak, jawab!” kata Mas Dodi. “Mas Dodi tidak dengar jawaban kamu, yang keras jawab! kamu suka atau tidak?” sekali lagi Mas Dodi bertanya dengan nada yang lebih keras. “Ira sukaa sekali Mas Dodi…” teriak Ira keras tanpa sadar. “Bilang dan teriak terus kamu suka”, pintanya.
Dan Ira tanpa sadar terus berteriak kenikmatan mengikuti permintaannya, yang pada akhirnya, Ira berteriak sangat keras karena penis Mas Dodi secara tiba-tiba menusuk vagina Ira, jeritan Ira semakin keras, “aachh sakiiittt… Mas”, tapi dengan jeritan itu penis Mas Dodi malah makin dalam saja masuk ke vagina Ira. Penis Mas Dodi masuk semuanya ke vagina Ira, Ira berontak sambil berteriak. Tapi Mas Dodi malah makin terangsang dengan teriakan dan jeritan Ira. Rasa pedih di vagina masih tetap terasa, tapi ritme keluar masuk penis Mas Dodi di vagina Ira secara perlahan mulai menggantikan kepedihan tersebut dengan rasa nikmat yang luar biasa sekali, sehingga tanpa sadar Ira teriak “Mas Dodi keep fucking me…. don’t stop it, I really like it.” Ira terus mengerang dan menjerit merasakan kenikmatan yang diberikan Mas Dodi, yang sampai akhirnya Ira menjerit keras karena orgasme yang luar biasa nikmatnya. Mas Dodi memperlambat gerakannya, lambat tapi tidak berhenti sampai pada akhirnya dia berteriak, “Ir, aku mau keluar, please hisap penisku karena aku tidak mau membuat kamu hamil”, pintanya.
Tanpa ragu Ira menghisap habis penis Mas Dodi sampai penisnya mengeluarkan dengan derasnya air mani Mas Dodi. Ira tidak ada pilihan lain selain menelan seluruh air mani Dodi tersebut. Terlihat bercak noda merah sebagai bukti bahwa pada hari itu Ira diperawanin oleh Mas Dodi dan pada hari itu juga Ira menerima pelajaran pertama menghisap penis dan juga menelan air mani. “Ir, kamu nyesel nggak?” Ira hanya bisa berkata, “Mas Dodi sudah ambil perawan Ira, tapi Ira nggak nyesel asal Mas Dodi jangan ninggalin Ira ya”, Mas Dodi memeluk Ira, tanpa kata-kata, tapi Ira tahu arti pelukannya itu.
Setelah Ira selesai menceritakan bagaimana dia di perawanin oleh Mas Dodi, sang kekasih, Ira terdiam sambil memejamkan matanya. Aku sendiri sengaja mendiamkannya untuk beberapa saat. Dari kaca yang terpasang di atas tempat tidur kulihat, dalam keadaan masih telanjang, begitu putih dan indah bentuk tubuh Ira dengan bentuk buah dada yang masih kencang. Tanpa sadar aku membayangkan diriku sendiri sebagai Mas Dodi, dan terbayang di dalam benakku bagaimana seru dan nikmatnya bersenggama seorang gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Lamunan tersebut membuat penisku mulai bangkit kembali dan tanganku tanpa dapat ditahan lagi sudah mendarat di buah dada Ira.
Dari cerita Ira tersebut aku dapat menangkap bahwa pengalaman pertamanya dalam making love dapat membuat Ira mecapai orgasme berganda (multiple orgasmic), meskipun pada awalnya, dan ini wajar bagi seorang gadis perawan, memiliki rasa was-was dan takut di dalam melakukannya.
Dengan keyakinanku itu tanpa sadar secara halus kuremas-remas buah dadanya, dan Ira membuka matanya sambil tersenyum manis sekali dan sangat menggairahkan. Kujilat putingnya, mulai dari yang sebelah kiri sampai yang kanan, dan mulai dari pangkal sampai ke bukitnya. Berulang kali kulakukan itu, sampai terdengar keluhan rasa nikmat keluar dari mulut Ira. Kutelusuri tubuh putih telanjang ini mulai dari leher sampai pada bibir vagina Ira. Ira mulai meronta kembali. Kakinya dia angkat sendiri membentuk huruf ‘V’, sehingga tonjolan clit-nya sangat jelas menantang untuk dihisap. Aku mengerti keinginannya, lidahku mulai menari-nari menggeluti clit Ira. Ira mengerang sambil berkata “Masss… I like the way you suck my clit… keep on sucking.”
Kuhentikan permainan lidahku pada clit Ira, karena aku ingin sekali mencium bibirnya yang sangat sensual itu. Lama kita berdua berciuman. Birahi Ira sudah mulai meninggi, terasa dari gigitan-gigitannya pada bibirku.
Dalam benakku sekilas terlintas bahwa ini adalah saatnya untuk memulai mencoba memainkan ulang ‘rekaman’ tersebut.”Ira…, Mas mau ngentot Ira lagi tapi Ira harus membayangkan bahwa Mas Herman ini adalah Mas Dodi..”, kataku. Ira menggelengkan kepalanya sambil berkata,”Mas nanti tersinggung dan merasa cemburu kalau Ira membayangkan Mas Dodi.”"Ini permintaan Mas…. dan Ira harus lepas bebas berteriak seolah-olah Ira sedang diperawanin seperti waktu itu”, kataku. Ira tetap menolak. Dengan tolakannya yang kedua ini maka aku secara ganas meremas dan menciumi buah dadanya sampai Ira mengerang keras, habis kulumat dan kujilati secara agak kasar buah dada Ira.”Masss Herman, ini seperti yang pernah Mas Dodi lakukan kepada Ira”, teriak Ira tanpa sadar.”Ira….. jangan panggil Mas dengan nama Herman, teriakan saja nama Mas Dodi”, pintaku. Makin buas aku melumat buah dadanya dan seiring dengan kebuasanku itu teriakan Ira semakin lepas, “Masss…. buas sekali…. tetapi Ira sukaa…” Sengaja remasanku di buah dadanya aku kencangkan, sambil aku berkata kepada Ira, “Panggil aku Mas Dodi…. ayo Ira, panggil aku Mas Dodi!”
Akhirnya Ira mulai berani berteriak “Mas Dodi… Mas Dodi…. aduh Mas Dodi…. nikmat sekali… Masss…” Diriku makin terangsang dengan teriakan Ira menyebutkan nama Mas Dodi, serasa aku sedang mencoba untuk mengoyak gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Ira sudah tidak sungkan lagi untuk mengerang, menjerit dan meneriakan nama Mas Dodi, dan aku sendiri semakin brutal saja menghisap dan menjilat clit-nya. Pada saat penisku sudah demikian tegang dan rontaan Ira semakin dahsyat, secara keras kutancapkan penisku ke vagina Ira persis seperti cerita Ira kepadaku. “Mas Dodiiii…. sakit, vagina Ira sakit…” teriaknya. Tapi aku tidak peduli, kugoyang persis seperti cerita Ira kepadaku bagaimana Mas Dodi menyetubuhi dia untuk pertama kalinya. Luar biasa sekali reaksinya, Ira meronta liar, mengerang dan menjerit serta mencakar punggungku sambil tidak berhenti memanggil nama Mas Dodi. Dengan erangan yang keras sambil berteriak, “Mas Dodi…. Ira keluar…. Ira keluar Masss… Ira ngecrettt…. ahh… Mas Dodi nikmat sekali entotannya…. Ira nggak kuat… Ira ngecret puas banget”.
Rontaan dan erangan Ira hanya bertahan 20 menit saja. Kucabut penisku dari vaginanya dan kumasukkan ke dalam mulutnya, Ira mengulum dan menjilati penisku dengan penuh gairah. “Ini penis Mas Dodi, Ira harus hisap penis Mas Dodi dengan cara yang halus sekali ya”, kataku. Ira mengedipkan matanya sambil terus mengulum penisku. “Mas Dodi sekarang pengen di entot Ira”, kataku. Dengan bersemangat Ira menjawab, “Mas Dodi, ini gaya Ira yang Mas paling suka kan”, sambil badannya membelakangiku, dan sebelah kakinya dia angkat, maka penisku masuk ke vaginanya dari samping. Posisi senggama semacam ini memang nikmat sekali, penis masuk dalam sekali dan tangan kananku dengan leluasa dapat memainkan clit Ira. Bagian kuduk Ira kuciumi, tanpa menghentikan tangan kananku memaikan clit-nya yang sekali-kali kupindahkan untuk meremas buah dadanya. Ira kembali “liar” meronta dalam kenikmatan, sambil tidak berhenti mengucapkan kata ‘Mas Dodi’ berulang-kali. “Mas Dodi sekarang kok kuat sekali, dari tadi Mas Dodi belum keluar”, ucapnya.
“Mas Dodi baru akan keluar kalau Ira sudah benar-benar puas”, kataku. Ternyata dengan Ira menghadap ke cermin yang ada di tembok justru semakin merangsang dirinya. “Mas Dodi, lihat tuh di kaca, Ira lagi digoyang sama Mas Dodi”, ucapnya. “Ira kan yang minta digoyang”, kataku. Dan Ira menjawab, “Ira sama sekali tidak merasa menyesal diperawanin oleh Mas Dodi, karena sekarang Ira bisa merasakan bahwa bersenggama itu nikmat sekali.” Gerakanku dalam menyetubuhi Ira semakin kupercepat, dan erangan Ira mulai keras kembali tanpa rasa sungkan. Posisi Ira sekarang berada di atas badanku, goyangannya luar biasa sekali. Sambil sekali-kali melihat ke kaca, Ira memainkan sendiri buah dadanya. “Terus Ir…. mainkan payudara kamu…. Mas Dodi senang melihatnya”, ujarku. Ira semakin liar, “Mas Dodi lihat tuh penis Mas Dodi keluar masuk di vagina Ira”, ucap Ira sambil menundukan kepalanya memperhatikan penisku keluar masuk vaginanya. Dalam gairah birahi yang begitu tinggi semua ‘rekaman’ di-playback tanpa disadarinya, dan aku benar-benar mengikuti setiap adegan yang diinginkan oleh Ira.
“Mas Dodi seneng kan lihat clit Ira?”, sambil tangan kirinya menarik bibir vaginanya sehingga tonjolan clit Ira tampak dengan jelasnya. Tangannya yang sebelah kanan mulai memilin dan memainkan clit-nya sendiri, hasilnya, Ira meronta liar dan gerakan senggamanya semakin bertambah cepat.
Ira benar-benar hebat dalam bersenggama, kuat dan sangat bergairah sekali. Wanita semacam Ira ini tidak mungkin dapat dipuaskan oleh laki-laki yang cepat ‘keluar’.”Ir, kamu nungging, biar Mas Dodi entot kamu dari belakang”, pintaku. Dalam posisi menungging kugoyang vagina Ira secara ganas, dan dia menjerit-jerit kenikmatan, yang akhirnya,”Mas Dodiii… Ira keluar lagi… aacchh…. ucchh…. Ira ngecret lagi mass”, gerakan liarnya berhenti sambil merintih merasakan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya. “Mas Herman luar biasa sekali, dan Ira merasa sangat puas dengan entotannya, tapi Ira kasihan sama Mas Herman, karena Ira selalu teriak-teriak nama Mas Dodi”, Ira berkata sambil memeluk diriku.”Ir, Mas Herman sama sekali tidak merasa cemburu atau tidak enak dengan sikap Ira tersebut, justru Mas merasa puas sekali dapat memuaskan Ira”, jawabku.”Ira senang dengan cara Mas Herman menyetubuhi Ira, pokoknya Ira mau sering di entot Mas Herman, Ira juga ingin memuaskan Mas Herman dengan cara apa saja asal Mas Herman puas. Sekarang giliran Mas Herman untuk ‘keluar’, Ira masih tahan ‘kok Mas”, ujar Ira. Aku menjawab,”Kalau Ira senang dengan entotan Mas Herman, Ira harus selalu mau ya kalau Mas Herman mau ngentot Ira”,”Tentu Mas, Ira janji”, jawabnya.
Aku memang belum keluar, dan dalam soal bersetubuh, hampir semua perempuan yang sudah kutiduri selalu bilang bahwa aku kuat sekali. Memang, meskipun penisku tidak terlalu besar tetapi daya tahanku kalau lagi bersenggama kuat sekali. Tidak ada wanita yang tidak pernah puas kalau main samaku, termasuk istriku sendiri.”Ir, pegangin dong penis Mas Herman”, pintaku. “Ira isep lagi ya Mas?” pintanya.Jilatan dan isapan Ira pada penisku memang halus sekali, dia mampu mengisap penisku tanpa menyentuhkan giginya sama sekali di penisku. Luar biasa nikmatnya. penisku sudah tegang kembali, Ira begitu menikmatinya menghisap dan menjilat penisku.”Mas, penis Mas ini pasti sudah masuk ke banyak vagina kan?” tanyanya. “Ira harus tahu bahwa Mas bukan laki-laki yang munafik dan Mas tidak suka dengan orang yang munafik. Memang Mas sering ngentot, tapi satu kalipun Mas belum pernah ngentot dengan perempuan yang dasarnya dia mau di-entot karena uang. Mas senang ngentot dengan dasar rasa suka sama suka dan saling membutuhkan, sehingga kedua belah pihak dapat saling memuaskan sehingga terasa benar bahwa ngentot itu adalah sesuatu yang indah dan nikmat untuk dilakukan”, jawabku.
Dengan jilatan dan isapan Ira penisku sudah semakin menegang. Kuraba-raba buah pantat Ira dan perlahan-lahan kujilati. Ira menggelinjang kegelian. Buah pantat Ira putih dan montok, kujilati terus disekitar buah pantatnya dan kadang-kadang lidahku menyusup kebelahan pantatnya. Ira mulai bergairah dan mulai merintih perlahan, “Mas geli…. tapi Ira suka…” Semakin berani lidahku menjilati belahan pantatnya, dan Ira semakin meronta merasakan kenikmatan yang diberikan oleh ujung lidahku. “‘Ir, kamu nungging biar Mas Herman jilat pantat kamu dengan lebih leluasa”, pintaku. Dengan posisi seperti itu lidahku bermain semakin leluasa di sekitar anusnya.
Ira sambil menghadap ke kaca mencoba untuk menahan rangsangan yang kuberikan, tapi akhirnya dia tidak tahan dan berteriak kecil, “Mas… nikmat sekali, Ira baru merasakannya sekarang, dulu Mas Dodi tidak pernah menjilati pantat dan sekitar anus Ira.” Kujilat jariku agar cukup basah, dan secara perlahan-lahan kumasukkan ke anus Ira. Ira mengerang “Massss… pedih… pelan-pelan, Mas…. tapi jangan dicabut.” Kumainkan jariku di permukaan anusnya dengan halus sekali dan secara perlahan-lahan kutekan terus jari telunjukku ke dalam anus Ira. “Enak Mas…. tapi masih pedih…. accchh…. rasanya Ira seperti diperawanin lagi…. uccchh…. enaakkk”, Ira mengerang nikmat tanpa henti. “Ir, sekarang Mas Herman perawanin anus Ira ya?” pintaku. Ira hanya mengangguk ragu, tapi aku tidak menunggu jawabannya lebih lanjut. Kubasahi penisku dengan air ludahku, dan secara perlahan kucoba memasukkannya ke anus Ira. Baru ujung penisku saja Ira sudah menjerit kesakitan, “Mas saakkiittt banget…. do it slowly, please….”
Aku hanya berkata, ” Ira, coba kamu isep dulu penis Mas Herman, biar licin”, pintaku. Kucoba secara perlahan-lahan memasukkan penisku lagi, Ira mengerang, tapi aku tambah bergairah sekali, kutekan lebih dalam lagi dan Ira terus mengerang, semakin Ira mengerang semakin dalam penisku masuk di anusnya. “Ir, penis Mas sudah hampir setengah masuk ke anus Ira, gimana kamu nikmat?” kataku. Ira tidak menjawab, tapi di luar dugaanku justru dia sendiri yang menekankan pantatnya ke penisku sehingga sambil Ira menjerit keras penisku masuk semuanya ke dalam anus Ira. “Mas giillaa ternyata rasanya nikmat setelah penis Mas masuk semuanya”, teriaknya. Aku tancap penisku dianusnya untuk beberapa saat, karena kalau langsung digerak-gerakan pasti Ira masih akan merasa kepedihan. Diluar dugaanku, tiba-tiba Ira mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berteriak-teriak, “Mas Herman enakkk banget… aduhh pedih… aduhh nikmat…. accchh nikmat.” Ira menjadi liar sekali setelah jariku juga masuk di vagina-nya. “Achh rasanya kaya di-entot dua penis sekaligus… Mas…. Ira baru kali ini merasakan ngentot seperti ini”.
Ira tidak berhentinya mengerang dan berteriak merasakan kenikmatan yang kuberikan. Karena gerakan Ira semakin ‘liar’ maka akupun mulai berani memainkan anus Ira, setiap aku menggerakkan penisku Ira menjerit, “Mas saakittt, ennaakk, pedihh.” Aku tidak tahan lagi, dan dengan sekali gerakan kutancapkan dalam-dalam penisku di anus Ira, Ira menjerit keras sambil berteriak “Ira ngecret lagi Mas… ampun… enakkkk banget…. Ira puas banget…. uhh enaakkkk sekali”, bersamaan dengan teriakan Ira tersebut air mani ku keluar menyembur membasahi bagian dalam anus Ira. Lelah… tetapi nikmat sekali.
Kamu berdua merebahkan diri sambil saling menatap kaca yang terpasang di atas langit-langit kamar. Ira menggengam tanganku erat sekali. ” Mas Herman terima kasih, Mas begitu baik mau membantu Ira sehingga Ira sekarang menemukan laki-laki yang mengerti kemauan Ira kalau lagi disetubuhi. Sehingga dalam satu hari Ira bisa orgasme sampai tiga kali. Mas Herman benar-benar luar biasa”, ujarnya. “Tapi bagaimana mungkin Ira bisa sebebas dan seliar tadi kalau ngentot sama suami Ira?” tanyanya. “Ira, masalah Ira ini sebenarnya dapat dipecahkan dengan membuka jalur komunikasi dengan suami kamu khususnya mengenai masalah seks kalian berdua, yang dapat kamu mulai lakukan setiap kali kalian selesai making love, karena kalau Ira atau suami Ira tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk memulainya maka masalah kamu ini bisa menjadi kendala keharmonisan hubungan kalian”, kataku. “Memang Mas tahu bahwa tidak banyak pasangan suami istri yang mengetahui bagaimana cara meminta apa yang kita inginkan, memberi kritikan dengan bungkus kasih sayang, mendengarkan pasangan dengan penuh pengertian atau memberi dengan tanpa syarat”, lanjutku.
“Kalau Ira memahami apa yang Mas maksud, dan selama ini suami Ira tidak pernah memperlihatkan adanya tanda-tanda bahwa dia mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Ira selama making love, maka Ira harus berani untuk membuka jalur komunikasi ini dengan cara seperti yang Mas katakan tadi di atas. Ungkapkan secara bertahap, dan lakukan komunikasi tersebut dengan bungkus kasih sayang. Tentu hasilnya tidak akan tiba-tiba, tetapi setelah jalur komunikasi itu terbuka, Mas yakin, bahwa masalah keberhasilannya hanya soal waktu saja”, lanjutku.
Tampaknya Ira mengerti apa yang kumaksudkan. “Tapi seperti kata Mas sendiri untuk menuju keberhasilannya kan akan memakan waktu, nah selama suami Ira belum dapat membuat Ira orgasme, terus Ira gimana?” tanyanya. “Don’t worry honey, I’ll always ready to make you satisfy… anytime you need it”, selorohku dijawabnya dengan diciumnya bibirku dengan mesra sekali.
Pada satu waktu Ira bertanya kepadaku, “Mas mungkin Ira dalam soal seks nggak normal ya?” Aku bukannya menjawab pertanyaan Ira tersebut, malah aku balik bertanya kepada Ira, “Ir, kamu tahu nggak batasan yang disebut tidak normal di dalam soal hubungan seks?” Ira menjawab “nggak tahu.” Aku menjelaskan pada Ira bahwa segala cara, gaya dan frekuensi di dalam melakukan hubungan seks akan selalu disebut normal apabila dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak, dengan tujuan untuk saling memuaskan pasangannya. Kalau pasangan kita melakukan cara-cara yang tidak kita sukai tetapi dia terus memaksakan keinginannya untuk mencapai kepuasannya sendiri, maka pasangan kita tersebut dapat dikatakan memiliki penyimpangan seksual (sexual deviation atau abnormal).
Pada akhir-akhir ini, setiap kali aku bersenggama Ira, jari-jari tanganku, khususnya jari telunjuk, sering dijilatinya dan di masukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati dan dihisapnya. Semakin liar gerakanku dalam menyetubuhi Ira, semakin bernafsu Ira menjilati dan menghisap jari telunjukku. “Ir, kamu sekarang ini selama ngentot sering sekali menghisap jari telunjuk Mas, dan kelihatannya Ira makin sangat terangsang kalau selama ngentot Ira dapat menghisap jari telunjuk Mas. Pasti kamu sangat menikmatinya kan?” tanyaku. Ira menjawab, “Ira makin terangsang kalau Ira dapat menghisap jari telunjuk Mas karena jari-jari Mas sekali-kali menyentuh langit-langit mulut Ira, rasanya geli dan sangat merangsang sekali.” Dari jawabannya tersebut aku mulai menduga-duga jangan-jangan pikiran Ira selama senggama pada akhir-akhir ini telah diisi dengan fantasi seksualnya yang baru. Aku memiliki keyakinan bahwa jari telujukku itu pasti dibayangkan oleh Ira sebagai penis kedua yang dapat dinikmatinya bersama-sama dengan penisku. Keyakinan itu timbul dari expresi Ira selama menghisap jari telunjukku. Ira begitu menikmatinya.
“Ir, kalau Ira mau bagaimana kalau kita coba untuk melakukan “threesome” dengan menambah satu orang laki-laki lagi dalam acara ngentot kita”, tanyaku. Ira tersentak kaget dengan tawaranku, dan sejenak dia hanya terdiam saja. Aku mencoba untuk menjelaskan pada Ira bahwa tawaran ini tentunya hanya sebuah tawaran yang dapat ia tolak, kalau memang Ira tidak menginginkannya. Tapi sewaktu aku menyinggung kepada kebiasaannya pada akhir-akhir ini Ira senang menjilati dan menghisap jari telunjukku selama senggama, Ira menimpalinya dengan mengatakan “Mas memang benar, karena pada akhir-akhir ini Ira sering berfantasi bagaimana rasanya tubuh Ira ini dijamah dan dicumbu oleh dua orang laki-laki dan Ira dapat bermain dengan dua penis sekaligus dalam satu tempat tidur. Meskipun Ira takut untuk mencobanya, tapi keinginan untuk mencoba hal itu selalu muncul setiap Ira main, baik itu dengan Mas maupun dengan suami Ira, tapi Ira masih ragu-ragu dan takut.”
Aku mencoba lagi untuk meyakinkan Ira, “Memiliki perasaan ragu-ragu dan takut untuk mencoba sesuatu yang baru adalah sangat wajar sekali, tetapi yang paling penting disini adalah keputusan dari Ira sendiri, apakah Ira mau mencobanya atau tidak?” ungkapku. “Ira mau Mas, tapi takut makin bertambah orang yang tahu bahwa Ira sebagai seorang istri ternyata tidak setia pada suaminya sendiri, dimana sekarang ini kan hanya Mas yang tahu”, ujarnya. “Yang penting adalah keputusan Ira bahwa Ira mau mencobanya, soal Ira takut bertambahnya orang yang mengetahui selingkuhnya Ira akan menjadi tanggung jawab Mas. Mas sendiri kan harus dapat menjaga kerahasiahan diri Mas sendiri, jadi Ira tidak usah khawatir”, kataku.
Bagiku sendiri melakukan “threesome” sudah sering kulakukan bersama-sama dengan sahabatku yang bernama Iwan, masih bujangan meskipun sudah berumur 32 tahun. Iwan ini adalah “lady killer” yang berpostur tinggi, tegap serta ganteng dan penisnya untuk ukuran orang Indonesia termasuk gede. Selain postur tubuhnya kelebihan lain dari Iwan ini adalah supel dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya serta dapat dipercaya. Aku hubungi dia, dan dia setuju dan menunggu untuk dihubungi olehku kembali.
Pada hari yang telah direncanakan aku menghubungi Ira dan mengatakan pada Ira bahwa hari ini aku akan memperkenalkan temanku kepadanya. “Mas, sungguh-sungguh dengan rencana ‘threesome’ itu?” tanya Ira. Aku menjawab “Itu soal nanti yang penting kita bertiga ketemu dulu dan tentunya Ira sendiri yang harus memutuskan apakah akan dilanjutkan dengan acara ‘threesome ‘ atau tidak.” “Oke, Mas, jemput Ira di tempat biasa jam 11 ya”, pinta Ira.
Jam 10.30 aku bersama Iwan meluncur untuk menjemput Ira. Sesampainya ditujuan, begitu Iwan melihat Ira, Iwan berkomentar “Gila tu binor (bini orang) keren banget, mengapa baru sekarang Man gue dikenalin.” Aku kenalkan Iwan pada Ira, dan kita bertiga, Ira duduk di depan di sampingku, meluncur ke arah utara kota Jakarta. Selama diperjalanan Iwan secara aktif membuka pembicaraan dengan Ira untuk membuat suasana lebih akrab lagi antara dia dengan Ira. Tujuanku adalah sebuah motel di daerah Pluit yang bernama PT, di motel ini selain kamarnya bagus juga makanannya nikmat-nikmat.
Makan siang dilakukan di dalam kamar, dan selesai makan siang dilanjutkan dengan nonton laser disc sambil ngobrol-ngobrol. Pada waktu Ira selesai dari kamar mandi, dekat pintu kamar mandi aku sempat bertanya kembali kepada Ira apakah Ira mau lanjut dengan acara ‘threesome’ atau Ira merasa tidak cocok dengan Iwan. Ira menjawab “Iwan ganteng Mas, dan untuk acara…..”, Ira diam, dan hanya tersenyum penuh arti kepadaku. Aku dapat menangkap isyaratnya. Ira mau untuk mencoba ‘threesome’ tetapi malu untuk mengatakannya.
Kembali ke kamar tidur, Ira duduk di sofa di samping Iwan, dan aku duduk di sebelah kanan Ira. Posisi duduk di sofa itu menjadi Ira duduk di tengah di apit oleh aku di sebelah kanan dan Iwan di sebelah kirinya. Film yang diputar melalui laser disc cukup seru, sebuah film drama percintaan dengan diselingi adegan-adegan ranjang yang halus tetapi cukup merangsang. Obrolan di antara kita bertiga semakin hidup, dan kelihatan kekakuan Ira dengan kehadiran Iwan sebagai kenalan barunya sudah mulai hilang.
Aku berpikir bahwa kini sudah saatnya untuk aku memulai berinisiatif “menyerang” Ira. Tanganku mulai mengelus paha putih Ira, Ira melirik kepadaku dan tersenyum cantik sekali. Elusan-elusan tanganku di atas paha putih Ira terus kulakukan yang dengan sekali-kali sengaja tanganku menyusup lebih tinggi lagi mendekati pangkal paha Ira. Hal itu kulakukan dengan mataku tetap menatap layar TV, dan sekali-kali aku mencuri pandang melihat kepada Iwan. Sampai tahap ini Iwan masih belum bereaksi, pandangannya tetap mengikuti film yang tertayang di TV.
Rok mini Ira semakin tersingkap, dan tanganku dengan leluasanya merambah dan mengelus naik turun sampai kesekitar pangkal pahanya, Ira mulai sering menggelinjang menahan rangsangan akibat dari apa yang kulakukan ini. Kesempatan ini kupergunakan untuk terus lebih merangsang Ira dengan mulai menyusupkan tangan kananku ke dalam blues Ira, pangkal payudaranya mulai kusentuh dan Ira mendesis sambil tetap berusaha mempertahankan posisi dirinya agar tidak semakin doyong bersandar ke tubuh Iwan. Tanganku masih belum begitu leluasa untuk meremas dan memainkan payudara Ira karena masih terhalang oleh BH yang dipergunakannya. Maka kembali tangan kananku kuturunkan untuk kembali mengelus paha Ira dan kali ini tanganku mulai menyelinap ke balik CD-nya. Ira tersentak menahan rangsangan ketika tanganku menyentuh clit-nya, dan tanpa sadar kepala Ira jatuh di dada Iwan. Dengan sigap tangan kiri Iwan menyangga kepala Ira dan tangan kanannya mulai meraba payudara Ira. Ira mulai merintih lirih menahan nikmat.
Dengan tangan kanannya Iwan mulai melepaskan kancing baju atas Ira satu persatu. Sedangkan aku sendiri makin ganas memilin clit Ira dengan tanganku. Erangan Ira semakin keras, ketika tangan Iwan berhasil menyusup kebalik BH Ira dan mulai meremas payudara Ira dengan remasan-remasannya yang mampu membuat Ira sangat terangsang. Goyangan kepala Ira semakin liar, dan dengan tangan kirinya Iwan mengangkat muka Ira ke atas sehingga posisi bibir Ira sangat dekat dengan mulut Iwan. Tanpa menunggu lagi, Iwan melumat bibir Ira dengan bernafsunya dan Ira pun membalasnya dengan tidak kalah buasnya.
Kuangkat kedua kaki Ira ke atas pahaku, kemudian kaki kanannya kusandarkan di sandaran sofa. Dengan posisi seperti ini tanganku semakin bebas memainkan clit Ira yang sudah mulai basah. Aku melihat ke Iwan, ternyata tangan kanannya masih terus meremas-remas payudara Ira, dan bibirnya sibuk mengulum bibir Ira. Begitu Iwan melepaskan lumatannya, Ira berteriak, “Pindah ke tempat tidur…. Ira ingin lebih bebas menikmati kalian berdua.” Iwan dan aku bersama-sama mengangkat Ira ke tempat tidur. Kulepaskan rok mini Ira berikut CD-nya sedangkan Iwan melucuti baju dan BH-nya. Ira sekarang telah telanjang bulat dan badan yang putih serta montok itu seakan menantang untuk dijarah olehku dan Iwan.
Kulebarkan kaki Ira, sehingga tampak jelas menonjol clit Ira yang merah kecoklatan. Kuturunkan kepalaku untuk mulai melumat dan menghisap clit Ira. “Oh…. oh…. Mas, Ira suka banget isepan Mas pada clit Ira”, Ira mengerang menahan rasa gairah yang kuberikan. Iwan mulai turut dalam permainan ini, dia menekukan lututnya di antara kepala Ira sehingga posisi penisnya jatuh tepat di atas mulut Ira. Disodorkan penisnya mendekati mulut Ira dan kulihat Ira sempat melihat ke wajah Iwan sambil tersenyum dan langsung mulai menjilati penis Iwan. Tangan Iwan dengan leluasanya meremas dan memilin payudara Ira. Sedangkan aku sendiri terus melumat clit Ira.
Sekarang tangan kananku yang memilin clit Ira, sedangkan dua jari tangan kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya. Ira mengelinjang dan menggerak-gerakan pantatnya naik-turun seolah-olah dia sedang bersetubuh. Aku bertanya kepada Ira “Apakah kamu suka dengan cara kita berdua ini?” Ira hanya mampu menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya, karena mulutnya masih berusaha untuk dapat menghisap penis Iwan sampai pada pangkalnya. Penis Iwan memang besar, kelihatan Ira kesulitan untuk menghisap penis tersebut sampai kepangkalnya. Kulihat akhirnya Ira melepaskan hisapan atas penis Iwan dan berkata, “Wan, penis kamu luar biasa gedenya, Ira susah ngisepnya.” Aku menimpalinya dengan berkata, “Tapi kamu suka kan sama penis Iwan?” Ira teriak “Suka banget, Mas.” Aku berkata pada Iwan “Wan, sekarang kamu gituin Ira dulu supaya dia bisa ngerasain gedenya penis kamu.”
Tanpa menunggu lebih lama lagi Iwan langsung menempelkan penisnya di bibir vagina Ira dan mulai menggesek-gesekannya. Ira merintih menahan nikmat dan aku sendiri sangat terangsang melihat adegan itu. Penisku berdiri keras sekali tetapi sementara ini aku tetap ingin menjadi penonton dulu. Penis Iwan agak kesulitan untuk menembus vagina Ira. Baru ujung penisnya masuk Ira sudah menjerit, “Wan… gila… sakit… rasanya kayak lagi waktu Ira dulu diperawanin.” Aku memancing fantasi Ira dengan mengatakan “Itu bukan Iwan tetapi Dodi.” Pancinganku berhasil, Ira mendesis sambil merintih “Mas Dodi, Ira mau diperawanin ya?” Iwan adalah partnerku yang baik dan sudah terbiasa dengan situasi semacam ini dan dia menjawab “Ira sayang Mas Dodi kan? biarkan penis Mas Dodi masuk ke vagina Ira.” Iwan menekan penisnya agar dapat masuk lebih dalam lagi. Ira bereaksi dengan berteriak “Ach…. achh… sakit Mas…. pelan-pelan.” Aku melihat dengan jelas bagaimana sulitnya vagina Ira untuk menerima penis Iwan, dan adegan ini membuatku semakin terangsang, tetapi aku mencoba untuk menahan diri untuk tidak segera berpartisipasi agar tidak kehilangan adegan yang merangsang ini.
Ira mengerang “Acchh…. pedih… Mas Dodi… please fuck me slowly…. I like your cock… so big… acchh…. slowly darling”, separuh dari penis Iwan berhasil masuk ke vagina Ira, dan Ira sendiri berontak liar menahan rasa pedih dan nikmat yang dirasakannya. Aku justru mendorong Iwan agar lebih menancapkan penisnya di vagina Ira dengan berkata “Ayo Dod, fuck her, Ira minta dientot sama penis kamu”, dan aku pun bertanya sama Ira, “benar kan Ir, kamu senang kan dientot Dodi, jawab dong…. kalau tidak nanti Dodi cabut lagi penisnya dari vagina Ira”, Ira berteriak, “Yessss…. Ira pengen banget penisnya Mas Dodi.” Mendengar teriakan Ira tersebut, Iwan langsung menekan penisnya lebih dalam lagi ke vagina Ira, dan Ira menjerit “Addduuhh…. so big…. painfull but nice…. fuck me deeply Mas Dodi.” Ira meronta-ronta kenikmatan mendapatkan penis yang jauh lebih besar dari punyaku. Jeritan-jeritan Ira semakin keras, dan badannya meronta liar tak terkendali ketika Iwan membalikkan badan Ira pada posisi doggy style.
Iwan sendiri kelihatan begitu bernafsu menggoyang Ira dari belakang, dia tidak mengurangi sama sekali genjotan penisnya ke dalam vagina Ira meskipun Ira terus merintih antara sakit dan nikmat. Aku sudah tidak tahan lagi melihat adegan semacam itu, segera aku berdiri di depan kepala Ira dengan posisi kaki yang kurentangkan sehingga kepala Ira berada di selangkanganku. Aku sodorkan penisku ke mulut Ira untuk dijilati dan dihisapnya. Ira sudah di luar kendali, “Mas Dodi… ini penis siapa laag…”, belum selesai Ira berkata, penisku sudah masuk di mulut Ira dan Ira dengan bernafsunya menjilati dan menghisap penisku. Hentakan penis Iwan dari belakang membuat Ira lebih tidak terkendali lagi di dalam menghisap penisku sehingga rasa nikmat yang aku rasakan sulit untuk diungkapkan. Ira melepaskan hisapannya atas penisku, dan mengerang serta berteriak keras sekali “Mas Dodi, Ira coming… Ira nggak tahan lagi, addduhh ohh… so nice”, badannya sejenak bergetar liar dan kemudian melorot rebah seperti tidak berdaya menahan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya.
Iwan menarik penisnya dari vagina Ira secara perlahan-lahan diiringi dengan lirihan Ira “Aaduuhh… nikmat sekali….” Untuk beberapa saat kita bertiga tidak ada yang bersuara. Keheningan terpecahkan ketika Ira berkata, “Sorry ya Wan, tadi Ira teriak manggil-manggil nama Mas Dodi, habis waktu penis Mas Iwan mau masuk ke vagina Ira, rasa sakit dan pedihnya sama banget sewaktu Ira diperawanin oleh Mas Dodi, jadi Ira inget dia.” “Yang penting buat Mas Iwan, Ira puas dan justru sewaktu Ira mulai menyebut-nyebut nama Mas Dodi, Mas Iwan semakin terangsang karena ngebayangin diri Mas Iwan sebagai Dodi yang lagi merawanin Ira”, jawab Iwan. Ira melirik ke Iwan dan sambil loncat ke kamar mandi Ira berkata, “Giliran kalian berdua ya untuk coming, be back soon.”
Keluar dari kamar mandi, Ira berdiri menghadap ke kaca rias sambil menyisir rambutnya. Aku harus mengakuinya bahwa postur tubuh Ira memang indah, putih dengan bentuk buah dada yang tegak menantang. Dalam posisi Ira masih berdiri menghadap kaca, aku sudah berdiri memeluknya dari belakang, secara perlahan kutelusuri tengkuknya dengan bibirku. Ira menggelinjang geli. Ciuman-ciuman kecil terus kulakukan di sekitar tengkuknya sambil tanganku dengan halusnya mulai mengelus buah dadanya. Tampak di kaca Ira berusaha untuk tidak memejamkan matanya, Ira berusaha untuk dapat melihat buah dadanya dielus dan diremas oleh kedua tanganku. Ira kelihatannya menikmati sekali adegan ini.”Wan, lets joint with us”, ajakku. Iwan beranjak dari tempat tidur dan langsung berjongkok di antara kaki Ira menghadap ke clit Ira. Iwan mulai memainkan lidahnya menjilati sekitar bibir vagina Ira, dan Ira tetap bertahan untuk terus menatap ke kaca. Tangan Ira memegang rambut Iwan, dan kepala Iwan digoyang-goyangkannya seolah-olah Ira menuntun lidah Iwan agar jilatannya jatuh di tempat yang diinginkannya.
Nafas Ira memburu, desahan rasa nikmat yang dialaminya mulai terdengar “Ohh… acchh shh… adduhh…” Tanganku masih terus meremas dan memilin puting payudara Ira. “Ir, lihat di kaca, lihat… clit kamu lagi dihisap dan dijilati Iwan, dan payudara kamu sedang Mas remas-remas, lihat…”, bisikku. Ira menatap kaca dan merintih lirih “Keep on doing, Ira suka baangeeet, nikmat….” Kubasahi dengan ludah jari telunjukku, dan secara perlahan-lahan kutusukan ke dalam anus Ira. Ira meronta, dan sambil tetap memegangi rambut Iwan untuk supaya tetap menjilati clit-nya, Ira mulai menggoyangkan pantatnya dengan maksud agar jariku dapat masuk lebih dalam lagi di anusnya.
Ira sudah lepas kendali, berteriak dan meronta menuntut yang lebih dari yang sedang dirasakannya saat ini. Kubasahi sekitar anus Ira dengan ludahku demikian pula penisku. Perlahan tapi pasti, penisku kutekan ke anusnya, Ira menjerit ketika penisku berhasil masuk ke anusnya. Dengan posisi berdiri, Iwan mulai berusaha untuk memasukkan penisnya ke vagina Ira. Tekanan-tekanan penis Iwan yang berusaha untuk masuk ke vagina Ira, secara tidak langsung menekan lebih dalam lagi penisku terbenam di vagina Ira, rasanya luar biasa nikmat. Penis Iwan berhasil masuk ke vagina Ira dan gerakan Ira semakin tidak terkendali karena setiap tekanan yang kulakukan membuat penis Iwan masuk semakin dalam, demikian sebaliknya kalau Iwan yang melakukan tekanan. Rintihan, teriakan dan gerakan Ira luar biasa sekali, Ira benar-benar menikmatinya.
Ira merintih, “Ohh, I’m coming again… shhehh, aaddduuhh, aacchh…” melihat Ira meronta-ronta aku tidak tahan lagi, kutekan dengan dalam penisku di anus Ira, diam tanpa gerakan untuk dapat merasakan sepenuhnya jepitan anus Ira di penisku akibat kontraksinya lubang anus Ira. “Ooohh… Ira…. Mas mau keluar…. auuuccchh…. shhiiitttt… I’m coming.. Ira”, teriakku sambil meremas kencang payudara Ira. Kudekap Ira dengan kedua lenganku, sedangkan Iwan dengan ritme yang pelan tetap masih menggoyang Ira, Ira sudah tidak mampu lagi untuk membuka matanya, bibirnya terkatup menahan rasa nikmat. Perlahan-lahan kucabut penisku dari anus Ira dan membiarkan Iwan sambil berdiri meneruskan menggoyang Ira
Kududuk di sofa memperhatikan mereka berdua bermain. Iwan mengangkat Ira ke tempat tidur, dengan posisi kaki Ira terjuntai ke lantai, Iwan berusaha untuk memasukkan penisnya lagi ke vagina Ira. Penis Iwan yang begitu gede berhasil masuk separuhnya ke vagina Ira, dan Ira pasrah menerimanya ketika Iwan menekankan penisnya sampai masuk seluruhnya. “Adduhh….”, hanya itu yang dapat diucapkan Ira. Gerakan Iwan dalam menyetubuhi Ira tetap stabil, perlahan, tetapi setiap menekan Iwan selalu menekan penisnya sampai masuk semuanya. Reaksi dari menyetubuhi Iwan ternyata luar biasa sekali, setiap Iwan menekankan penisnya Ira pasti merintih “Mas Iwannn… ampun…. ampun Mas…. Ira puas bangett-bangeeettt”, tanpa sadar penisku berdiri lagi tetapi aku merasa kasihan kepada Ira kalau harus menangani penisku lagi. Aku mendekat kepada Ira dan dengan halus kuusap dan kuremas-remas buah dadanya. Remasan-remasan yang kulakukan membuat Ira semakin merintih, dan rintihan Ira yang semakin keras tersebut merangsang Iwan untuk lebih mempercepat goyangannya.
“Mas Iwan… Ira ampun…. Ira mau keluar lagi… aacchh… Ira keluar… oocchh”, teriak Ira, dan bersamaan dengan teriakan Ira tersebut kulihat Iwan memperlambat goyangannya dan menanamkan seluruh penisnya dalam-dalam ke vagina Ira sambil berteriak “Irrrrrr, Mas… mau keluar… accchh adduhh”, badan Iwan meregang tegang menahan nikmat dan beberapa saat kemudian merebahkan badannya memeluk Ira sambil mencium bibir Ira dengan mesranya.
Ira tidak bersuara,demikian pula Iwan dan aku, kita masing-masing jalan dengan pikiran dan lamunannya sendiri-sendiri. Jam 19.00 kita bertiga meninggalkan motel PT, di tengah jalan Ira berkata, “Mas Iwan burungnya kok bisa gede begitu sih, rasanya sampai sekarang masih mengganjal saja di vagina Ira.” Iwan hanya tertawa dan sambil berseloroh menjawab, “Kamu salah Ir, yang gede bukan penis Mas Iwan tapi vagina kamu yang terlalu sempit”, kita bertiga tertawa lepas dan sepakat untuk melakukannya lagi, next time.
TAMAT

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar