Teman Profesi Dan Ranjang

Diposkan oleh Cerita Dewasa on Kamis, 26 April 2012


dia-23

Sebagai Kepala Sekolah, ternyata Mat Sujak, 51, tak bisa berkepala dingin menghadapi persoalan. Demi mendengar mantan istrinya, Rawit, 43, dikawini oleh Basrodin, 48, ngamuklah dia. Bersama dua anak lelakinya, mereka bau membahu merusak rumah teman seprofesinya, yang sekaligus jadi teman seranjang bekas istrinya.

Orang Jawa memiliki semboyan: sadumuk bathuk sanyari bumi. Maksudnya, mereka siap bertaruh nyawa demi membela perkara lemah (tanah) dan semah (istri). Maka seperti yang dikisahkan dalam cerita “Ramayana”, Prabu Rama bertempur mati-matian dengan segala hulubalangnya melawan Dasamuka, karena membela Dewi Sinta yang direbut raja Ngalengka. Demikian pula Kumbokarno, rela mati demi membela negara, karena (benar atau salah) tak sudi negerinya diacak-acak bangsa lain.
Nasib Mat Sujak agaknya seperti Prabu Rama ini. Istri cuma satu-satunya, kok direbut teman sesama guru. Padahal dari perkawinannya dengan Rawit, sejumlah anak telah lahir. Gara-gara bini diserobot “Dasamuka” made in Pamekasan (Madura) ini, usaha sampingannya sebagai pedagang meubel jadi bangkrut. Paling sadis dan ironis, sementara usahanya di ambang kehancuran, istri menuntut cerai dan kemudian ternyata……malah dikawini Basrodin. “Tapur kelap (samber geledeg)” maki Mat Sujak dalam bahasa Madura.

Mat Sujak memang pekerja ulet. Sebagai Kepala SD dan istri juga jadi guru, masih mencari tambahan penghasilan sebagai pedagang meubel. Dia rupanya menyadari bahwa gaji PNS yang tak punya rekening gendut, akan payah di hari tua jika hanya mengandalkan uang pensiun. Apa lagi istrinya juga seprofesi, bagaimana nanti jika sudah sama-sama tua malah penyakitan? Padahal seiring dengan profesinya, pensiunan guru biasanya akan terkena penyakit ……….pengapuran (karena biasa pegang kapur)!

Namun celaka tiga belas, belum juga pensiun sudah ada penyakit baru dalam rumah tangganya. Apa itu? Diam-diam ternyata Rawit sang istri menjalin hubungan dengan Basrodin teman gurunya di SDN Bugi, Pamekasan. Tak melihatnya langsung, memang. Tapi dari cerita sejumlah saksi mata, Pak Guru dan Bu Guru ini sering jalan bareng. Bukan untuk urusan sekolah, tapi urusan lain yang merupakan kebutuhan “hakiki” kaum lelaki dan perempuan.
Gara-gara ini, rumahtangga Mat Sujak – Rawit jadi goyah. Katanya istri, tapi Rawit sudah jarang memenuhi tugasnya sebagai istri. Untuk mamah (makan) masih mau, tapi…..mlumah (melayani di ranjang) sudahlah ogah. Makin pusing lagi, ketika tiba-tiba Rawit menggugat cerai di Pengadilan Agama. Sebetulnya dia tak mau pecah koalisi. Tapi jika mitra koalisinya sudah tidak kompak, buat apa dipertahankan? Maka daripada istrinya malah macam Golkar dan PKS di KIB-II-nya Pak SBY, ya sudahlah, Rawit ditalaknya.

Yang membuat warga Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan ini marah besar, beberapa bulan setelah istrinya dicerai, tahu-tahu dinikahi oleh Basrodin teman gurunya. Lagi-lagi Mat Sujak mengumpat khas Madura: tapur kelap! Dia sungguh tak sanggup membayangkan, istri yang dicintai selama ini, ternyata kini dikangkangi oleh sesama teman anggota PGRI.

Kalau Prabu Rama dalam kisah “Ramayana” lalu mengerahkan ribuan kera dari Pancawati, dia cukup mengajak dua anak lelakinya yang sudah remaja, untuk mbarang amuk (berbuat anarkis) di rumah Basrodin di Kelurahan Bugih, Pamekasan. Yang dicari tak ada, mereka bertiga langsung merusak perabot rumahtangga, dari meja kursi, jendela dan barang elektronik, sehingga hancur berantakan.
Gara-gara pengrusakan itu, Basrodin melaporkan Mat Sujak ke polisi. Bersama kedua anaknya, dia mendatangi panggilan Polsek Pamekasan. Dalam pemeriksaan Mat Sujak mengakui, itu masih bagus yang dirusak hanya rumahnya. Coba kalau Basrodin ada, mungkin ceritanya jadi lain. “Istri orang kok direbut, bagaimana saya tak marah? Tapur kelap, tak iye…..” lagi-lagi Mat Sujak memaki.
Maklum, Kepala SD ini “kepala”-nya sedang cekot-cekot.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar